Ini Empat Nabi yang Masih Hidup Sampai Sekarang

  • Bagikan

Tausiyah – al-Quran dan Firman Allah telah menjelaskan secara gamblang bahwa Nabi dan Rasul merupakan insan pilihan yang bertugas memberikan Wahyu Allah kepada seluruh umat manusia.

Setiap kurun dan peradaban berlangsung, selalu ada sosok Nabi dan Rasul yang bertugas meluruskan penyimpangan yang dilakukan oleh umat insan di masa itu.

Walaupun ditunjuk sebagai insan pilihan, sebagaimana pada umumnya, Nabi dan Rasul juga mengalami kematian dan sakaratul maut. Hampir semua Nabi dan Rasul yang diturunkan mengalami kematian.

Namun, al-Quran mencatat ada 4 Nabi dan Rasul yang sampai sekarang masih hidup. Dimana keberadaan mereka ketika ini?

Nabi Khidir alaihissalam

Guru dari Nabi Musa as ini diyakini masih hidup sampai saat ini. Hal ini didasarkan karena Nabi Khidir mendapat tugas dari Allah untuk mengajarkan ilmu hikmah kepada para wali Allah.

Selain itu, dalam karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada seorang anak dari Sam bin Nuh as telah meminum air kehidupan, lalu ia dapat hidup lama.”

Maka pergilah Raja Zulkarnain bersama Nabi Khidir as, untuk meminum air kehidupan itu. Akan tetapi, yang berhasil meminumnya adalah Nabi Khidir as, sedangkan Raja Zulkarnain tidak berhasil menemui air kehidupan tersebut.”

Syaikh Athiyah, Mufti Al-Azhar berkata:

تَحَدَّثَ الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ عَنْ عَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ تَقَابَلَ مَعَهُ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَكَانَ بَيْنَهُمَا مَا جَاءَ فِى سُوْرَةِ الْكَهْفِ {فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا} الآية: 65 وَتَحَدَّثَتِ السُّنَّةُ النَّبَوِيَّةُ الصَّحِيْحَةُ كَمَا رَوَاهُ الْبُخَارِى وَأَحْمَدُ وَالتُّرْمُذِى عَنْ هَذَا الْعَبْدِ الصَّالِحِ بِاسْمِ “الْخِضْرِ” لأَنَهَ جَلَسَ عَلَى فَرْوَةٍ بَيْضَاءَ هِىَ وَجْهُ اْلأَرْضِ فَإِذَا هِىَ تَهْتَزُّ مِنْ تَحْتِهِ خَضْرَاءُ(فتاوى الأزهر 10/ 425)

“Al-Quran mengisahkan seorang hamba diantara hamba-hamba Allah yang berjumpa dengan Nabi Musa, yang dijelaskan dalam surat al-Kahfi yang artinya: ‘Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami’. Hadis-hadis sahih, seperti al-Bukhari, Ahmad dan Turmudzi menjelaskan tentang ‘hamba’ ini adalah Khidir (hijau). Disebuut Khidir karena jika ia duduk di atas tanah yang tandus, maka akan tumbuh pepohonan yang hijau” (Fatawa al-Azhar 10 / 425)

Terkait apa benar masih hidup sampai sekarang? Para ulama berbeda pendapat. Menurut Hasan al Bashri dan Imam Bukhari, Nabi Khidir dan Nabi Ilyas telah wafat sebelum mencapai usia 100 tahun.

Namun mayoritas ulama mengatakan Nabi Khidir masih hidup. Menurut Imam Nawawi: “Nabi Khidir masih hidup, ada di tengah-tengah kita saat ini”. Bahkan Mufti al-Azhar Syaikh Athiyah Shaqr mengutip dari al-Qurthubi (11/45) mentarjih bahwa ini adalah pendapat yang sahih (Fatawa al-Azhar 10/425)

Indikasi tersebut menurut Syaikh al-Azhar, Syaikh ‘Athiyyah meliputi (1) Banyaknya kabar dari para ulama yang berkumpul bersama Nabi Khidir. (2) Adanya sebuah riwayat mmenjelang wafatnya Rasulullah saw yang menyatakan bahwa Nabi Khidir turut berta’ziyah dan Sayidina Ali bertanya kepada orang lain:

فَقَالَ: هَلْ تَدْرُونَ مَنْ هَذَا؟ هَذَا الْخِضْرُ وَعَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ. (رَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي عُمَرَ عن مُحَمَّدٍ بْنِ جَعْفَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ : كَانَ أَبِي، يَذْكُرُ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ عَلِيٍّ، أَنَّهُ دَخَلَ عَلَيْهِ … فَذَكَرَهُ بِسَنَدٍ رِجَالُهُ ثِّقَاتٌ اهـ (إتحاف الخيرة المهرة 2/ 526

“Tahukah kalian siapa dia? Dia adalah Khidir” (HR al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah dan Ibn Sa’d dalam Thabaqat al-Kubra).

Nabi Idris alaihissalam

Berbeda dengan Nabi Khidir, keberadaan Nabi Idris ketika ini diketahui sudah berada di surga. Nabi Idris dikenal sebagai nabi yang cerdas dan cekatan.

Bagaimana Nabi Idris dapat berada di surga sampai saat ini?

Awal kisah ini bermula ketika Allah memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawa Nabi Idris. Ketika mendatangi Nabi Idris dan menyampaikan maksudnya dan tujuannya, Nabi Idris pun oke dengan syarat sehabis dicabut nyawanya ia ingin dihidupkan kembali.

Allah swt pun mengabulkan permohonannya ini kemudian Nabi Idris dibawa ke alam abadi oleh malaikat maut untuk melihat kondisi umat insan yang ada di sana.

Tiba-tiba Nabi Idris meminta izin kepada malaikat untuk mengambil sepatunya yang tertinggal di Surga. Malaikat pun mengizinkannya.

Tiba di surga dan mengambil sepatunya, malaikat lantas mengajak Nabi Idris pulang namun Nabi Idris tidak ingin keluar dari Surga.

“Ya Idris, keluarlah!. Tidak, wahai Malaikat Maut, kerana Allah SWT telah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ – ١٨٥

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Sedangkan saya telah mencicipi kematian. Dan Allah berfirman yang bermaksud:

“Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi Neraka itu.” (Maryam: 71)

وَاِنْ مِّنْكُمْ اِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلٰى رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا ۚ – ٧١

Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan.

Dan firman Allah lagi yang bermaksud:

لَا يَمَسُّهُمْ فِيْهَا نَصَبٌ وَّمَا هُمْ مِّنْهَا بِمُخْرَجِيْنَ – ٤٨

Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.

Maka Allah menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut itu: “Biarkanlah dia, kerana Aku telah menetapkan di azali, bahawa ia akan bertempat tinggal di Syurga.”

Sejak saat itu, Nabi Idris pun tercatat sebagai salah satu Nabi yang hidup sampai sekarang di Surga.

Nabi Ilyas alaihissalam

Dari dulu hingga detik ini dan sampai Hari Kiamat, Nabi Ilyas AS tidak pernah mati (meninggal dunia), dan kini beliau sedang berdzikir di tengah-tengah muka bumi ini, dan jasadnya dijadikan ghaib oleh Allah SWT sehingga beliau tidak bisa diketahui akan keberadaannya sekarang.

Imam Ad-Daraqathni meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RA: “Nabi Khidir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun saat musim haji, dan mereka berdua saling mencukur kepala (Tahallul) satu sama yang lain”. (Riwayat Ibnu ‘Abbas RA).

Dalam Az-Zuhd riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabarani dikatakan: “Nabi Khidir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun pada saat musim haji, dan mereka berdua saling mencukur kepala (Tahallul) satu sama yang lain. Dan mereka berdua berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis!”. (Menurut Ibnu Hajar, riwayat ini sanadnya hasan).

Di dalam Musnad Abu Usamah dikatakan: “Nabi Khidhir di samudra dan Nabi Ilyas di daratan, mereka bertemu tiap malam di samping tembok yang dibuat oleh Dzulqarnain”. (Lihat Syawahid Al-Haq pada halaman 200 tentang 4 hadits yang dibawakan oleh Ibnul Jauzi).

Nabi Ilyas AS dan Nabi Ilyasa AS bersama-sama mengemban misi dakwahnya kepada Bani Isra’il di Isra’il. Kurang lebih selama delapan tahun, Nabi Ilyas AS hidup bersama Nabi Ilyasa AS untuk menjalankan misi dakwahnya kepada Bani Isra’il.

Ketika itu mereka berdua berjalan-jalan ke sebelah timur sungai Yordan. Tiba-tiba datanglah angin badai disana dan akhirnya reda. Pada suatu hari, ketika Nabi Ilyas AS sedang beristirahat datanglah Malaikat Maut kepadanya. “Hai Ilyas, penuhilah panggilan Allah, kini saatnya nyawa mu akan kujemput! Maka bersiap-siaplah, hai Ilyas!” kata Malaikat Maut.
Mendengar berita itu, Nabi Ilyas AS menjadi sedih dan menangis. “Mengapa engkau bersedih, Ilyas?” tanya Malaikat maut.
“Tidak tahulah” jawab Nabi Ilyas AS.

“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi kematian ?” tanya malaikat Maut.

“Tidak. Tidak ada satupun yang aku sesali kecuali karena aku menyesal karena tidak bisa lagi berdzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup bisa terus berdzikir memuji Allah,” jawab Nabi Ilyas AS.

Saat itu Allah swt lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berdzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas AS ingin terus hidup semata-mata karena ingin berdzikir kepada Allah swt. Maka berdzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.

Allah swt berfirman: “Biarlah Nabi Ilyas hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berdzikir kepada-Ku sampai akhir nanti (hari kiamat)!”. Mendengar firman Allah tersebut, maka Malaikat Maut tidak jadi mencabut nyawa Nabi Ilyas AS. Maka selama-lamanya Nabi Ilyas AS tidak akan pernah mati (tidak akan pernah meninggal dunia) kecuali di Hari Kiamat. Maka dibuatlah Nabi Ilyas AS tetap hidup abadi hingga hari kiamat, nyawa nya tidak dicabut, namun diri nya dijadikan ghaib oleh Allah SWT sebagaimana Nabi Khidir yang tetap hidup namun diri nya dijadikan ghaib oleh Allah SWT agar tidak bisa dilihat, didengar, dan diketahui keberadaannya oleh orang yang masih hidup di dunia.

Allah SWT menjadikan Nabi Khidir AS dan Nabi Ilyas AS tetap hidup dan tidak pernah mati hingga hari kiamat kelak. Allah SWT menempatkan Nabi Khidir AS di tengah-tengah lautan, sedangkan Nabi Ilyas AS ditempatkan-Nya di tengah-tengah taman yang luas yang indah yang ada di tengah-tengah muka bumi ini, sambil terus-menerus dalam keadaan berdzikir kepada Allah SWT dari dulu, dan detik ini, dan sampai wafatnya nanti di hari kiamat.

Nabi Isa alaihissalam

Nabi Isa difirmankan dalam Alkitab dan al-Quran sampai sekarang yakni sosok nabi yang masih hidup. Dalam Islam, Nabi Isa diselamatkan dari penyaliban kaum Romawi dan Yahudi di Nazareth, sedangkan dalam agama Nasrani diyakini bahwa Nabi Isa dibangkitkan kembali pasca insiden penyaliban.

Banyak ulama yang berpendapat bahwa Nabi Isa as masih hidup di langit setelah ia diangkat oleh Allah saat diselamatkan dari kejaran kaum kafir yang ingin membunuhnya.

Peristiwa itu diabadikan dalam al-Quran Surah An-Nisa ayat 157 yang artinya:

وَّقَوْلِهِمْ اِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللّٰهِۚ وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۗوَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ ۗمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًاۢ ۙ – ١٥٧

dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) Isa, selalu dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu (siapa sebenarnya yang dibunuh itu), melainkan mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.