Kisah Sepasang Kakak-Beradik di Oman Menjadi Mualaf

  • Bagikan
Foto: (Ilustrasi) Masjid Sultan Qaboos di Oman.

Pada akhir tahun keenam Hijriyah, Nabi Muhammad SAW menulis surat kepada raja-raja. Tujuannya tak lain untuk mengajak mereka masuk Islam.

Saat ingin menulis surat-surat itu, diberitakan kepada Nabi bahwa para raja-raja tidak mau menerima surat kecuali jika diberi stempel. Maka, Nabi Muhammad pun membuat stempel dari perak bertuliskan: “Muhammad Rasul Allah.” Tulisan ini terdiri dari tiga baris, Muhammad sebaris, Rasul sebaris, dan Allah sebaris.

Salah satu surat dari Nabi ditujukan kepada kepada Raja Oman, Jaifar dan Saudaranya, Abd. Keduanya adalah dari kabilah al Julandi. Berikut isi suratnya.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dari Muhammad bin Abdullah kepada Jaifar dan Abd Bani al Julandi. Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.

Sesungguhnya aku menyeru kalian berdua kepada Islam. Masuk Islamlah, kalian akan selamat. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada segenap manusia, untuk memberikan peringatan kepada yang hidup dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. Jika kalian mengikrarkan keislaman, maka aku akan mengangkat kalian sebagai penguasa. Tetapi jika kalian menolak untuk mengikrarkan keislaman, sungguh kerajaan kalian akan lenyap oleh pasukan berkuda yang datang ke kerajaan kalian berdua dan akan berjaya kenabianku di kerajaan kalian berdua.

Nabi mengutus Amr bin Ash untuk membawa surat ini. Amr berkata, “Aku pun pergi hingga sampai ke Oman. Ketika aku datang, aku langsung menuju Abd, di antara kakak beradik itu, dialah yang lebih lembut dan terbaik akhlaknya.”

Amr berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah SAW kepadamu dan kakakmu.”

Abd berkata, “Saudaraku lebih tua dariku dan lebih utama dalam kerajaan dan aku akan membawamu kepadanya sehingga ia membaca suratmu.”

Kemudian Abd bertanya, “Apa yang engkau serukan?”

Amr berkata, “Aku mengajakmu untuk beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, meninggalkan apa-apa yang disembah selain Dia, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.”

Abd berkata, “Hai Amr, sesungguhnya kamu adalah anak dari pemuka bangsamu, maka apa yang dilakukan oleh ayahmu? Karena ayahmu dalam pandangan kami adalah sebagai panutan.”

Amr berkata, Dia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada Muhammad SAW dan sungguh aku berharap andai dia masuk Islam dan membenarkan (Kenabiannya). Aku dulu juga mengikuti seperti pendapatnya hingga Allah memberiku hidayah untuk memeluk Islam.”

Abd berkata, “Kapan kamu masuk Islam?”

“Belum lama ini,” jawab Amr.

Abd bertanya, “Di manakah kamu masuk Islam?”

Amr menjawab, “Ketika aku bersama an-Najasyi, kemudian aku kabarkan kepadanya bahwa an-Najasyi telah masuk Islam.”

Abd bertanya, “Lalu apa yang dilakukan rakyatnya terhadap kerajaannya?”

Amr menjawab, “Mereka mengukuhkannya dan mengikutinya?”

Abd bertanya, “Dan apakah para uskup dan pendeta juga mengikutinya?”

Aku menjawab, “Ya.”

Abd berkata, “Hai Amr, hati-hatilah dengan apa yang kamu katakan, sesungguhnya tidak ada tabiat yang lebih buruk dari pada berdusta.”

Amr menjawab, “Aku tidak berdusta dan itu tidak dibolehkan dalam agama kami.”

Kemudian Abd berkata, “Aku tidak yakin kalau Heraclius mengetahui keislaman an-Najasyi.”

Amr berkata, “Itu tidak benar (Dia telah mengetahuinya).”

Abd berkata, “Jadi dengan apa kamu mengetahui hal itu?”

Amr menjawab, “Dulu, an-Najasyi membayar upeti kepadanya dan tatkala ia masuk Islam dan membenarkan (kenabian) Muhammad SAW, ia berkata, “Tidak. Demi Allah, seandainya dia meminta dariku satu dirham, tidak akan aku berikan.” Dan sampailah perkataan itu kepada Heraclius. Lalu berkata Niyaq, saudaranya, “Apakah akan kamu biarkan hambamu tidak mengeluarkan upeti dan memeluk agama baru selain agamamu?” Heraclius menjawab, “Dia menginginkan suatu agama, kemudian ia memilihnya untuk dirinya. Maka apa yang bisa aku perbuat? Demi Allah, kalaulah tidak akrena sayang pada kerajaanku, pasti aku berbuat seperti yang dia perbuat.”

Abd berkata, “Hati-hatilah wahai Amr, dengan apa yang engkau katakan.”

Amr menjawab, “Demi Allah, aku berkata benar kepadamu.”

Abd berkata, “Beritahukan kepadaku apa yang ia (Muhammad) perintahkan dan apa yang ia larang!”

Amr menjawab, “Ia memerintahkan untuk taat kepada Allah dan melarang berbuat maksiat, menyuruh kepada kebaikan dan menyambung tali persaudaraan, melarang perbuatan zhalim, permusuhan, zina, minuman keras, menyembang batu, patung, dan salib.”

Abd berkata, “Alangkah bagusnya apa yang ia serukan itu. Jika kakakku setuju, maka sungguh akan kami tempuh perjalanan sehingga kami beriman kepada Muhammad dan membenarkan (kenabiannya). Akan tetapi kakakku memudaratkan kerajaannya (karena tidak mau masuk Islam) daripada membiarkannya dan menjadi kerajaan bagian.”

Amr berkata, “Sungguh jika ia memeluk Islam, Rasulullah akan menjadikannya raja atas bangsanya. Lalu ia dapat mengambil zakat dari orang-orang kaya untuk diberikannya kepada orang-orang miskin.”

Abd berkata, Sungguh itu adalah akhlak yang baik.”

“Apakah zakat itu?” tanya Abd.

Maka Amr memberitahu kepadanya tentang harta yang diwajibkan zakat di dalamnya oleh Rasulullah hingga aku sebutkan semua sampai kepada unta.

Abd berkata, “Hai Amr, (Apakah zakat itu) diambil dari hewan gembalaan yang digembala di padang rumput dan mendatangi sumber air?”

Amr menjawab, “Ya”

Abd berkata, “Demi Allah, aku tidak yakin rakyatkau dapat mematuhi zakat ini dalam kejauhan rumahnya dan banyaknya jumlah mereka.”

Amr berkata, “Kemudian aku tinggal di sana selama beberapa hari, sedang dia menemui kakaknya dan memberitahukan semua pembicaraan denganku.”

Kemudian pada suatu hari dia memanggil Amr, maka dia masuk menghadap Abd dan Jaifar, kakanya. Lalu pembantu-pembantunya mencekal lengan Amr. Jaifar berkata, “Biarkan ia.”

Amru dilepaskan lalu pergi dan duduk. Tetapi, mereka menolak membiarkan Amr duduk. Amr lalu melihat kepadanya.

Jaifar berkata, “Katakan apa yang engkau inginkan!”

Maka Amr berikat surat yang disegel kepada Jaifar. Dia buka segelnya dan ia baca hingga selesai. Kemudian, Jaifar memberikan kepada adiknya, Abd, hingga selesai membaca seperti kakaknya.

Jaifar kemudian berkata, “Coba katakan kepadaku apa yang dilakukan oleh kaum Quraisy?”

Amr menjawab, “Mereka mengikutinya, baik karena suka kepada agamanya atau dipaksa dengan pedang.”

Jaifar berkata, “Siapakah yang bersamanya?”

Amr menjawab, “Masyarakat yang telah menyukai Islam dan lebih memilihnya daripada yang lain. Mereka mengetahui dengan akal pikiran mereka serta hidayah Allah kepada mereka, bahwa dulu mereka berada dalam kesesatan. Aku tidak mengetahui seorang pun (Yang belum mengikutinya) selain dirimu pada perjalanan ini. Jika kamu hari ini tidak memeluk Islam dan mengikutinya, pasukan berkuda akan menyerbumu dan menghabisi kekuasaanmu tanpa sisa. Maka, masuk Islamlah, niscaya kamu akan selamat. Ia akan mengukuhkanmu atas bangsamu, dan tidak akan masuk ke dalam (negerimu) pasukan-pasukannya.”

Jaifar berkata, “Aku tidak bisa memberi keputusan hari ini, kembalilah esok hari!”

Lalu Amr kembali kepada adiknya, Abd, dan dia berkata kepada Amr. “Hai Amr, sungguh aku mengharapkan ia masuk Islam kalau saja ia tidak menyayangkan kerajaannya.”

Keesokan harinya Amr mendatanginya, akan tetapi dia tidak mengizinkan Amr bertemu dengan Jaifar. Amr pun mendatangi adiknya dan diberitahu bahwa dia tidak bisa menemui Jaifar.

Maka, Abd membawa Amr kepada Jaifar. Jaifar kemudian berkata, “Sungguh aku telah memikirkan apa yang engkau serukan itu. Tiba-tiba aku dapati diriku merupakan seorang Arab yang terlemah bila aku bersedia mengangkat seseorang sebagai raja atas kekuasaanku, padahal pasukannya tidak akan bisa sampai sini. Dan seandainya bisa sampai, pasti pasukan itu akan menemui suatu pertempuran yang luar biasa.”

Amr berkata, “Kalau begitu, besok aku akan pulang.”

Ketika ia yakin dengan kepergian Amr, adiknya, Abd, berbicara dengan Jaifar. Berkata adiknya, “Kita tidak akan bisa mengalahkannya kalau setiap orang yang diutus kepadanya memenuhi ajakannya.”

Pada esok harinya, Jaifar memanggil Amr. Lalu, akhirnya Jaifar dan Abd, sepasang kakak beradik, memeluk Islam dan membenarkan Nabi Muhammad. Kemudian, mereka berdua menyerahkan kepada Amr dalam pengurusan zakat dan putusan hukum (atas perselisihan) di antara mereka. Mereka berdua menjadi pendukung Amr dalam menghadapi orang-orang yang tidak mau mematuhi Amr.

Menurut Syekh Shafiyyurahhman al Mubarakfuri dalam bukunya yang berjudul Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad SAW, alur cerita ini menunjukkan bahwa pengiriman surat kepada mereka berdua agak lambat dibanding surat-surat kepada raja-raja yang lain. Dan, sepertinya pengiriman surat ini terjadi setelah pembebasan Makkah.

Dengan surat-surat ini, Nabi telah menyampaikan dakwahnya kepada banyak raja-raja yang ada di muka bumi. Di antara mereka ada yang beriman, ada juga yang menolak. (rep)

  • Bagikan