Pariwisata Bali Sepi. Efek Corona atau Tolak Wisata Halal?

  • Bagikan

Denpasar – Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Bali mengakui bahwa selama ini mereka telah menganak-tirikan wisatawan lokal dan memprioritaskan wisatawan mancanegara di Pulau Dewata tersebut. Faktor tersebut juga disinyalir membuat wisata Bali menjadi sepi disamping karena corona dan anggapan bahwa mereka menolak wisata halal.

Sehingga ketika saat wabah virus corona heboh di Bali, sektor pariwisata dirasa mengalami penurunan paling drastis. Seperti diketahui, pihak pemerintah menutup penerbangan sementara dari dan ke negara China. Padahal menurut pejabat setempat wisatawan China adalah wisatawan mancanegara terbanyak di Bali. Dan banyak negara lain yang menerbitkan travel warning sehingga Bali juga terkena imbas.

Setelah terkena corona

Namun sekarang sang wakil gubernur menyesali perbuatan tersebut dan berjanji untuk tidak menomorduakan wisatawan lokal.

“Kami sekarang mengarah ke tamu lokal. Kami ketergantungan tamu mancanegara terlalu tinggi. Dan kami terlalu abai terhadap potensi domestik kita. Padahal jumlahnya sangat besar sekali,” sesalnya di Denpasar seperti dilansir CNN pada Selasa (11/3).

Komentar warganet

Sejumlah warganet menganggap sepinya parawisata Bali karena pernah menentang wisata halal.

Seperti diketahui, Gubernur Bali Wayan Koster pernah berkata pada Selasa (12/11/2019) silam bahwa ia menentang ide wisata halal.

“Jadi kalau Bali itu dilekatkan dengan tagline lain seperti wisata halal atau yang ramah terhadap wisata muslim itu saya tolak. Itu tidak boleh,” ungkapnya.

Berikut komentar atas sepinya pariwisata Bali. Sebagian menganggap karena pembedaan prioritas dan sebagian lain mengkaitkan dengan penolakan sejumlah tokoh di Bali akan saran rencana wisata halal di negara mayoritas Hindu tersebut.

“Coba kalau bersahabat dengan wisata halal kek Jepang. Wisata halal bukan muslimkan Hindu di Bali, tapi menyiapkan fasilitas seluas-luasnya bagi Muslim untuk tetap beribadah ketika berwisata dan makanan halal dijamin dan tersertifikasi. In sya Allah tetap booming,” tulis akun twitter bernama kemlonih.

“Waktu di Bali pernah nyaris ditipu masalah nyari makanan halal. Belom lagi pas nanya Masjid dibikin nyasar. Lagian pantainye kotor sekarang, kagak asri kek taon2 90an dulu. Kebanyakan bangunan. Itu tahun 2011 lalu, dan semenjak itu gue kagak pernah mao lagi ke sono. Kapok!,” ujar DukeCondet.

“Mau ketawa, tapi takut dosa, tapi yang begini patut ditertawakan. Pengalaman reservasi tempat pake bahasa Indonesia, dibilang penuh. Telpon lagi pake bahasa inggris dengan suara sedikit dibedain, langsung dibilang masih ada yang tersedia. Yang begini nih kenapa sih,” ungkap Nurulmuliaw.

“Ane pengen main ke Bali, tapi karena tak ada jaminan makanan halal jadi ya lanjut nyebrang ke Lombok…,” jelas PakDhe Gondrong

“Mau ngakak takut dibilang gak nasionalis. Ingat bbrp waktu lalu ada yg bilang gak butuh turis lokal, apalagi yg Muslim, sayang gak disimpan jejak digitalnya..Rakyat butuh pahlawan yg dipercaya bkn jend kardus,” sebut Hummaira.

“Dari dulu Pengen liburan ke bali sama keluarga, tapi istri saya ga mau karena bali ga cocok untuk liburan keluarga muslim,” ujar Alvin_BKT.

“Syukurin pake bombastis nolak wisata halal segala sih lu ! Jepang dan Korea aza galakan wisata halal buat narik turis2 muslim dari Timur Tengah !,” kritik Wissangeni. (AL)

  • Bagikan