Kesedihan Muslim Dunia Sambut Ramadhan dalam Bayang Pandemi Corona

  • Bagikan

Makkah dan Madinah kini sepi sunyi. Dua tempat suci umat muslim ini tidak seperti biasanya. Tak ada lagi jamaah umrah dari penjuru dunia yang berdatangan. Suara merdu remaja masjid bersahut-sahutan melantunkan ayat suci Al-quran pun tak lagi terdengar.

Padahal, selain salat tarawih berjamaah, tadarus atau membaca Alquran menjadi ibadah rutin umat Islam di bulan Ramadan.

Tapi, Covid-19 atau virus corona telah mengubah kebiasaan umat muslim dalam beribadah dari biasanya. Ramadan kali ini, akan terasa sekali perbedaanya. Terlebih Kerajaan Arab Saudi memperpanjang penangguhan salat berjemaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama bulan Ramadan tahun ini, untuk membendung penyebaran virus corona. Iktikaf atau berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah juga tidak diperbolehkan.

Suasana Masjid Nabawi di tengah Pandemi Corona

Keputusan ini diumumkan pihak pengelola kedua masjid itu melalui Twitter, dengan mengutip Presiden Jenderal Sheikh Dr. Abdulrahman bin Abdulaziz Al-Sudais.

Alih-alih salat berjemaah, kedua masjid itu akan menggelar salat lima waktu dan tarawih selama Ramadan tanpa jemaah umum sebagai tindakan pencegahan penyebaran virus corona serta meningkatkan operasi penyemprotan disinfektan.

Seorang Muzain bernama Ali Mulla menangis ketika mendapat kabar dari Kerajaan Arab Saudi memperpanjang penangguhan salat berjemaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama bulan Ramadan tahun ini untuk membendung penyebaran virus corona. Iktikaf atau berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah juga tidak diperbolehkan.

Bagaimanapun, tidak semua orang menerima keputusan ini dengan lapang dada. “Hati kami menangis,” kata Ali Mulla, muazin di Masjidil Haram.

“Kami terbiasa melihat masjid suci penuh orang selama siang, malam, setiap saat…Saya merasa sakit di dalam,” tambahnya, kepada kantor berita AFP.

Pada awal bulan April, memberlakukan jam malam selama 24 jam di kota suci Mekah dan Madinah sebagai bagian dari upaya untuk mengendalikan penyebaran virus corona.

Langkah tersebut kembali disuarakan media kerajaan tersebut, Saudi Gazette, dalam cuitannya. Arab Saudi mencatat total 10.484 kasus virus corona pada Selasa (21/04), dengan kematian 103 orang.

“Kita berada dalam satu perahu. Jika kita sama-sama berkomitmen, kita akan mencapai pantai dengan selamat. Kita terbiasa mengadakan banyak aktivitas sosial selama Ramadan, tahun ini akan berbeda dan saya mendesak semua orang untuk berkomitmen menjaga jarak,” ucap Menteri Kesehatan Arab Saudi, Tawfiq al-Rabiah, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Di Kerajaan Saudi, pemerintah menetapkan jam malam dimulai dari pukul 15.00 hingga 6.00 untuk menimimalkan jumlah penyebaran corona.

Rofi, seorang warga Indonesia yang bekerja di Arab Saudi mengaku memahami tujuan kebijakan ini, namun ia memandang bahwa pemberlakuan jam malam telah menunjukkan perubahan drastis pada tradisi orang Saudi kala menyambut bulan Ramadan.

Rofi yang bekerja sebagai sopir ini mengaku sedih Ramadan tahun ini tidak bisa pulang ke Madura lantaran negara tempatnya bekerja menutup rapat-rapat pekerja asing untuk pulang ke negaranya. Karena itu, ia secara mental mempersiapkan buka puasa dalam kondisi isolasi.

Ia mengungkapkan, bahwa sulit untuk menerima kenyataan bahwa wabah virus corona terjadi di saat Ramadan kian dekat. Ia juga kemungkinan tidak berbuka puasa bersama keluarganya. “Tapi inilah kenyataan yang harus diterimanya, tidak bisa bertemu anak dan istri di kampung, tidak ada cara lain atau saya akan membahayakan mereka,” tuturnya sedih.

Masih Ada Negara Gelar Tarawih

Bukan hanya Arab Saudi, Oman juga melarang pertemuan massal selama bulan suci Ramadan dan memperpanjang protokol lockdown di ibu kota Muscat hingga 8 Mei karena kasus virus corona terus meningkat.

Virus corona di Oman sejauh ini menjangkiti 1.508 orang dan menyebabkan 8 kematian, merujuk data Universitas Johns Hopkins.

Mengutip Al Arabiya, Selasa (21/4/2020) Komite tertinggi Oman mengerluarkan pernyataan bahwa warga dilarang mengadakan pertemuan massal sealama Ramadan, menyusul pengumuman serupa di negara-negara Teluk tetangga.

“Komite menekankan pentingnya menghindari semua pertemuan selama Bulan Suci Ramadan,” kata komite itu dalam sebuah pernyataan.

“(Komite) menegaskan bahwa penutupan masjid, bahkan untuk salat Tarawih akan berlanjut, kecuali untuk panggilan untuk salat (azan),” tambahnya pernyataan tersebut.

Pernyataan menekankan bahwa acara seperti seperti buka puasa di masjid, majelis umum dan kegiatan sosial, budaya, olahraga, dan kegiatan kelompok lainnya sangat dilarang.

Langkah Oman ini mengikuti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang telah melarang salat tarawih di masjid.

Dewan Sarjana Senior Arab Saudi mendesak umat Islam di seluruh dunia untuk berdoa di dalam rumah mereka selama Ramadan jika mereka tinggal di negara-negara yang memberlakukan pembatasan virus corona seperti jam malam dan penguncian.

Keputusan untuk menghentikan salat di masjid-masjid terjadi setelah pertemuan antara badan keagamaan tertinggi Arab Saudi, Dewan Ulama Senior, dan Menteri Kesehatan di kerajaan itu.

“Ini dianggap sebagai kewajiban agama yang ditentukan oleh Syariah Islam dan aturan umum dan spesifiknya. Semua orang tahu bahwa pandemi ini membutuhkan tindakan pencegahan termasuk mencegah segala bentuk pertemuan tanpa terkecuali,” kata Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim, Mohammed al-Issa, saat itu.

Sauasana Kakbah dilihat dari atas

Berbeda dengan Arab Saudi, Oman dan kebanyak negara lainnya, Kementerian Kehakiman, Urusan Islam dan Wakaf Bahrain justru mengumumkan bahwa Masjid Agung al-Fateh tetap mengadakan salat tarawih sepanjang bulan Ramadan.

“Masjid Al Fateh akan dibuka untuk [salat] Isya dan Tarawih sepanjang bulan suci”, kata Kementerian Kehakiman mengutip Al Arabiya, Selasa (21/4/2020)

Kementerian Kehakiman menekankan bahwa keputusan tersebut didukung Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifah.

Pengumuman ini sekaligus mengikuti konfirmasi sebelumnya bahwa Masjid al-Fateh juga dibuka kembali untuk salat Jumat.

“Namun, salat Jumat, Isya dan Tarawih akan terbatas, dengan kewajiban untuk mengenakan masker dan di bawah pengawasan otoritas kesehatan yang kompeten,” menurut Kementerian tersebut.

Pembatasan ketat seperti dalam satu shaf tidak lebih dari lima orang, aturan jarak sosial menjaga jarak setidaknya dua meter dan mengenakan jamaah menenakan masker saat salat di Masjid al-Fateh.

Bahrain sebelumnya melarang warga salat di masjid-masjid di wilayah pada 23 Maret sebagai upaya memperlambat penyebaran wabah virus corona. Virus corona di Bahrain telah mengjangkiti 1.907 orang dan menyebabkan 7 kematian. (OZ)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.