Setelah Nyumbang Rp 14 Miliar Lawan Corona, Mualaf Steven Mau Jual Satu Rumah Lagi

  • Bagikan

Steven Indra Wibowo atau yang akrab disapa Koh Steven, mengungkap masih akan menjual satu rumahnya lagi di kawasan Ambarawa, Salatiga, Jawa Tengah. Sebelumnya, Ketua Mualaf Center Indonesia ini menguras habis harta bendanya senilai Rp 13 – 14 miliar untuk melawan COVID-19.

Baca: mualaf yang rela jual aset 12 Milyar untuk bantu Covid 19

“Enggak ada (rumah) yang bisa dijual lagi, yang di Jakarta dan Bandung sudah laku, tinggal yang di Ambarawa,” ujar Koh Steven saat berbincang dengan detikcom, belum lama ini.

Sebelumnya, Koh Steven telah menjual dua rumahnya senilai kurang lebih Rp 9 miliar lebih. Belum lagi 7 mobil dan tiga motor besar yang ditaksir mencapai Rp 5 miliar lebih.

“Kamu punya Rp 10 juta untuk sendiri, mungkin bisa bertahan 3-4 bulan di masa pandemi ini. Kalau saya punya Rp 10 juta, bisa dapat 3 hektare bibit padi, dan berapa ton beras nanti yang bisa kita hasilkan. Kalau memikirkan orang banyak, jadi banyak orang yang tercukupi, nah yang juga akan datang ikut bantu. Saling bergandengan tangan seperti itu,” ujar ayah beranak empat ini.

Dari dana penjualan harta bendanya, Koh Steven mengkonversinya menjadi ratusan ribu masker untuk tenaga medis dan non medis, hazmat atau PPE, surgical gown, face shield yang ia dan timnya produksi sejak Januari 2020 lalu. Belum lagi ratusan ribu sembako dan hidangan siap santap yang dibagikan ke 43 kabupaten/kota di 28 provinsi di Indonesia.

“Aku hanya mendistribusikan doang, harta hanya titipan. Pinjaman ini harus dikembalikan dengan cara yang baik, disedekahkan daripada dipakai yang enggak benar. Supaya di Indonesia banyak orang tergerak untuk melakukan hal yang sama,” ucapnya.

Awalnya, ucap Koh Steven, ia enggan untuk mempublikasikan kegiatannya di media massa. Namun, pikirannya berubah setelah diyakinkan seorang jurnalis kenalannya. Ia berharap, orang lain bisa menduplikasi gerakan yang diinisasinya, sehingga lebih banyak masyarakat yang terbantu.

“Aku berharap gerakan ini diduplikasi oleh orang lain, karena kapasitasku ini ada akhirnya, pasti ada ujungnya dan ini akan menjadi panjang dan lama. Orang lapar pasti ada terus,” katanya yang juga menggagas gerakan ketahanan pangan, Tancap Indonesia. (mud)

  • Bagikan